Recent Posts

Penonton ILC Tertawakan Ucapan Mantan Komisioner KPU yang Minta Kotak Suara Aluminium Tak Disalahkan

Foto : Mantan Komisioner KPU Chusnul Mariyah dan para Pekerja saat mengerjakan produksi Kotak dan Bilik Suara Pemilu 2019 di kawasan Tanggerang, Banten, Minggu (30/9/2018). KPU akan memproduksi sebanyak 4 juta kotak suara dan 2,1 juta untuk bilik suara. 

News Investigasi.com--

Jakarta,-- Mantan Komisioner KPU Chusnul Mariyah meminta agar komisioner KPU yang bekerja saat ini tidak membandingkan dan seolah melempar kesalahan pada KPU terdahulu terkait kotak suara aluminium dan kotak suara kardus.

Hal tersebut disampaikan Chusnul Mariyah saat mendapatkan giliran mengemukakan pendapatnya di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang secara langsung di tvOne pada Selasa (18/12/2018).

Chusnul Mariyah menegaskan, meskipun kotak suara kardus sudah digunakan di empat Pemilu sebelumnya, namun kotak suara yang bergerak ke berbagai daerah di Indonesia adalah kotak suara yang berbahan aluminium.

"Yang dibawa, yang bergerak, itu bukan kotak suara kardus, tapi kotak suara aluminium. Jadi hasil suara itu, ditaruh di kotak aluminium, dan bergerak," paparnya.
Ia lantas mengomentari bahan yang digunakan untuk kotak suara itu.

"Ini juga bukan dari dupleks asli bahannya. Dupleksnya itu oplosan, jadi craft putih. Coba dicek. Itu harusnya harganya lebih murah10 ribu dari harga yang ada," katanya.

Ia juga memaparkan soal berat kedua kotak yang disebut-sebut berbeda.

"Ini juga katanya lebih enteng dari yang aluminium. Enggak, sama-sama tiga kilo beratnya dengan aluminium," ungkapnya.

Karena hal-hal tersebut, Chusnul Mariyah lantas meminta agar KPU tak menyalahkan KPU terdahulu, terutama mengungkit soal kotak suara aluminium.

Ia pun meminta agar kotak aluminium tidak dipersalahkan.

Sebelumnya, Chusnul Mariyah juga membahas soal kemungkinan-kemungkinan kecurangan dalam pemilu.

"Pemilu, saya bicarakan secara politik, sebagai dosen ilmu politik. Manipulasi itu bisa dilakukan dari mulai peraturan perundang-undangan," ujarnya.

"Yang kedua dari DPT yang digelembungkan atau diciutkan. Kemudian dari rekruitmen anggota KPU," sambungnya.

Ia lantas mengatakan hingga hari ini, masih banyak KPU yang belum merekrut anggotanya.

"Padahal pemilu tinggal 4 bulan lagi. Jadi siklus anggota KPU sendiri tidak akan membuat KPUD indonesia itu kuat."

"Itu 2006 sudah saya sampaikan ke Presiden SBY waktu itu. Tapi memang peserta pemilu memang tidak suka kalau KPUnya kuat. Nggak bisa diajak kong kalikong," katanya.

Diketahui, kotak suara berbahan dasar kardus beberapa hari belakangan ini memang ramai diperbincangkan.

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, kotak suara berbahan karton kedap air bukanlah hal baru di pemilu Indonesia

"Jadi kotak suara berbahan karton kedap air ini sudah digunakan sejak Pemilu 2014, Pilkada 2015, 2017, dan 2018," ucap Arief Budiman di Hotel Menara Peninsula, Sabtu (15/12/2018).

Arief memaparkan, ‎selama ini tidak ada laporan di lapangan yang menyatakan pemilihan terganggu karena menggunakan kotak suara berbahan karton kedap air itu.

"Kami sudah memutuskan sejak beberapa tahun lalu untuk mengganti penggunaan kotak suara berbahan aluminium dengan karton kedap air. Itu juga karena kami melihat banyak negara pemilunya mengunakan kotak suara bahan karton. Itu tidak jadi masalah, dan harganya relatif jauh lebih murah dibanding aluminium," jelasnya.

Selain itu, di kondisi internal KPU, banyak kantor KPU di kabupaten/kota yang nyatanya belum memiliki kantor sendiri.

Sehingga, untuk menyimpan kotak suara, mereka harus menyewa gudang.

"Biaya sewa gudang terus meningkat, kotak suara harus disimpan untuk pemilu selanjutnya.‎ Kalau pakai aluminium kita harus biayai orang untuk merakit kembali, pasang baut," paparnya.

‎‎Arief Budiman menambahkan, detail soal kotak suara juga telah diperhitungkan.

Kekuatan kotak suara dan bagian sisinya yang harus transparan sudah terjamin.

"Kotak itu mampu menahan tubuh saya. Kami benar-benar ukur berat dan volumenya.‎ Hal-hal detail sudah kami perhitungkan," bebernya.

( Edi Heriyanto )

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.