Recent Posts

Korban Penipuan Rumah Syariah Bodong DiTangsel

Rumah Syariah Bodong di Tangsel
Salah satu properti contoh Perumahan Syariah Alexandria


News Investigasi.com,Jakarta --Keinginan Dwi Arianto untuk memiliki rumah dalam waktu dekat harus ditunda. Uang yang dikumpulkannya hilang karena dia menjadi korban penipuan perumahan syariah.

Pria berusia 33 tahun itu tak menyangka, dengan menggunakan embel-embel syariah, PT Wepro Citra Sentosa, pengembang perumahan yang berkantor di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan, diduga menipu sekitar 3.680 orang yang tersebar di beberapa wilayah.

Dengan harga yang ditawarkan jauh dari pasaran, Dwi pun tertarik. Ia lantas menghubungi nomor kontak tersebut dan diarahkan untuk langsung datang ke kantor PT Wepro Citra Sentosa.

Di sana, ia bertemu dengan tim marketing perusahaan yang menjelaskan konsep perumahan syariah, syarat-syarat yang mudah, hingga fasilitas-fasilitas yang nantinya akan dibangun.

"Dijelaskan tanpa riba, tanpa BI Checking, tinggal datang membawa KTP, Kartu Keluarga, dan booking fee, nanti akan langsung ditempatkan di cluster yang diinginkan," ujar dia.

"Saya sehari-hari kerja sebagai ojek online, bang, memang niat ngumpulin uang untuk rumah, pas lihat yang murah, cocok, dengan iming-imingi manis, langsung berani saja saya," ungkap dia.

Hingga angsuran ke delapan, Dwi mendengar kabar yang makin tak pasti soal pembangunan perumahan itu. Sementara uangnya sudah 'melayang' Rp32 juta.

Mendesak Pengembang

Koordinator para korban, Achmad Sokib, mengatakan iklan perumahan syariah yang ditawarkan oleh PT Wepro Citra Sentosa tidak hanya di media sosial. Pengembang itu bahkan sempat membuka stand di JCC.

"Sebelum melakukan transaksi, saya cek juga ke lokasi, sudah ada rumah contoh. Saya cek juga, bahwa perusahaan sudah punya izin usaha, izin prinsip, karenanya saya tentu tidak curiga," kata dia.

Saat itu, Sokib melakukan transaksi untuk dua unit rumah di Perumahan Maja Indah yang rencananya akan berlokasi di Maja, Lebak, Banten. Total ia sudah menyetorkan sekitar Rp75 juta.

Ia dijanjikan serah terima kunci rumah setelah bulan keenam angsuran. Namun hingga waktu yang ditentukan, rumah tersebut tak kunjung dibangun.


"Memang itu korban banyak sekali, jadi berkelompok kelompok juga, ada yang lapor polsek terdekat, polres, namun tidak ada tindak lanjut. Hingga akhirnya belum lama ini ditangkap oleh Polda Metro Jaya," ujar dia.

Dalam kasus tersebut, Polda Metro Jaya menangkap Komisaris Utama PT Wepro Citra Sentosa, M Ariyanto, dan istrinya, Sofiatun. Polisi juga menangkap Direktur Utama PT Wepro Citra Sentosa, Iswanto, serta Direktur PT Global Muslim Property atau Madinah Property Indonesia, Cepi Burhanudin.

Dari sindikat tersebut, polisi mengatakan korban berjumlah sekitar 3.680 orang dengan total kerugian sementara mencapai Rp40 miliar.

Berdasarkan penuturan Sokib, sejak mengetahui ada yang tidak beres dengan PT Wepro Citra Sentosa, ia dan korban-korban lainnya mencari tahu proyek-proyek yang digarap oleh pengembang tersebut.

"Ternyata memang sudah ada proyek gagal (lainnya)," kata dia.

Menurut dia, proyek tersebut antara lain, Apartemen di Buaran, Jakarta Timur, Perumahan Maja Indah dan Amanah City yang terletak di Banten, hingga Apartemen di wilayah Serpong, Tangerang Selatan.

Mencoba untuk melihat lokasi apartemen yang berada di wilayah Serpong, Tangerang Selatan tersebut. Berdasarkan lokasi di google map, Samarra Tower berada di Lengkong Gudang Timur.

"Dulu katanya mau dibangun, tapi saya kurang tahu mau dibangun apa," kata Wardini, salah seorang warga sekitar, Sabtu (21/12).

Sementara itu, Kantor Pemasaran PT Wepro Citra Sentosa yang berada di ruko Kebayoran Square Business Park Blok C01 Jln Boulevard Bintaro Jaya Sektor 7, Tangsel, sudah tidak ada aktivitas sejak Lebaran 2019 lalu.

"Habis lebaran sudah gak ada aktivitas, sudah banyak korban yang datang ke sini," kata salah seorang petugas keamanan, Jumat (20/12).


Sebelum kasus ini mencuat ke publik, LBH Keadilan Bogor Raya mendapatkan laporan dari lima korban, yang juga diduga tertipu karena ingin membeli rumah di wilayah Maja, Banten.

"Masing-masing korban itu sudah menyetor sekitar Rp14-Rp39 juta, namun sesuai dengan waktu yang dijanjikan, tidak ada kejelasan," kata salah seorang pendamping hukum dari LBH Keadilan Bogor Raya, Delon Frensco Lauterboom , Sabtu (21/12).

Pihak LBH pun melakukan berbagai upaya hukum termasuk upaya ke Badan Perlindungan Sengketa Konsumen terkait pengembalian uang, namun pengembang tak kunjung punya iktikad baik. Hingga akhirnya melapor ke Polda Metro Jaya pada Agustus 2019 lalu.

"Kami akan dampingi sampai (kasus) selesai. Harapannya korban pasti uang kembali," tegasnya. 

( Syamsul )

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.