Recent Posts

Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si, " Saya Hanya Orang Kampung Tapi Saya Bersyukur Sehingga saya Bisa Seperti Sekarang ini "

Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si

News Investigasi.com,Jakarta --

Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si. (lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963; umur 56 tahun) adalah seorang perwira tinggi Polri yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak tanggal 1 November 2019, menggantikan Jenderal Pol. Tito Karnavian

Idham adalah sosok sederhana, tidak banyak bicara dan pekerja keras.

Selain itu, Idham merupakan sosok yang supel sehingga membuat dirinya banyak bergaul dengan siapa pun. "Saya berharap Pak Idham Azis sukses dalam memimpin Polri," ujarnya.

Dan juga Mabes Polri mengeluarkan Surat Telegram Nomor: ST/30/XI/HUM.3.4/2019/DIVPROPAM. Sesuai dengan instruksi Kapolri Jenderal Idham Aziz, arahan tersebut terkait peraturan disiplin anggota Polri soal kode etik profesi.

"Sehubungan dengan ref tersebut di atas, disampaikan kepada KA bahwa Polri sebagai alat negara bertugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat harus mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih melalui penerapan pola hidup yang sederhana dengan tidak bergaya hidup mewah, menunjukkan hedonisme dalam kehidupan sehari-hari, baik di internal institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat," katanya saat dikonfirmasi.

Masih dalam isi Surat Telegram, berkaitan dengan hal tersebut di atas, Pegawai Negeri pada Polri harus menyesuaikan kemampuan ekonomi sebagai cerminan sifat prihatin untuk mencegah terjadinya kesenjangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, dalam rangka mewujudkan aparatur negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotime, agar memedomani pola hidup sederhana.

1. Tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun di area publik.

2. Senantiasa menjaga diri, menempatkan diri pola hidup sederhana di lingkungan institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat.

3. Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

4. Menyesuaikan norma hukum, kepatutan, kepantasan, dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

5. Menggunakan atribut Polri yang sesuai dengan pembagian untuk penyamarataan.

6. Pimpinan kasatwil, perwira dapat memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik, tidak memperlihatkan gaya hidup yang hedonis terutama Bhayangkari dan keluarga besar Polri.

7. Dikenakan sanksi yang tegas bagi anggota Polri yang melanggar.

( Red )

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.