Recent Posts

Edi Prasetio : Driver menjerit, Dilarang Bawa Penumpang Selama Masa PSSB " Pemerintah harus Kaji Ulang

Mobil Trevel



News Investigasi.com,Jakarta--

Penerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan oleh pemerintah DKI Jakarta berdampak oleh para Transportasi umum dan kendaraan pribadi dan Trevel.

Meski Peraturan Gubernur (Pergub) belum keluar, tapi rupanya sudah beredar mekanisme pembatasan penumpang pada kendaraan pribadi dan transportasi umum dan Trevel yang kemungkinan akan diberlakukan saat PSBB dimulai.

Dalam edaran tersebut dijelaskan bahwa pengguna mobil pribadi tidak bisa mengangkut penumpang dengan jumlah seperti kondisi normal.

Artinya, harus ada pengurangan untuk menciptakan jarak atau physical distancing dalam kendaraan.

Driver atau pengemudi Trevel tidak terima adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Covid-19 yang berdampak pada pekerjaan mereka.

Sebab, semenjak wabah virus corona, kehidupan mereka juga sudah merana.

Edi Presetio yang mewakili Driver atau pengemudi Trevel Jakarta Lampung beliau mengatakan angkat bicara menolak keras pelarangan mengantar penumpang selama PSBB diterapkan oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Dengan ada nya Pembatasan Sosial Bersekala Besar ( PSBB ),selama wabah Virus Corona melanda Ibu Kota Jakarta, penghasilannya sudah turun drastis 80 persen.

"Kalau ditambah pelarangan agar kami tidak angkut penumpang, kami mau makan apa?" kata Edi saat dihubungi, Jum'at (10/4/2020).

Edi meminta pemerintah jangan sewenang-wenang dalam menerapkan kebijakan.

Terlebih, dalam kebijakan itu pemerintah juga tidak menjamin adanya kompensasi untuk para pengumudi Trevel yang sementara dirumah.

Disebutkan, mobil penumpang jenis sedan dari semula memiliki kapasitas empat orang menjadi tiga orang. Mekasnismenya, satu menjadi sopir dan dua penumpang di belakang.

Sementara untuk jenis mobil tujuh penumpang atau MPV, hanya boleh mengangkut empat penumpang dengan rincian, satu menjadi sopir, dua penumpang di baris kedua, dan satu di baris ketiga.

Dalam aturan tersebut juga dijelaskan bahwa transportasi online seperti taksi dan ojek tetap diperbolehkan beroperasi. Namun, dengan ketentuan yang sama.

Dari aturan tersebut justru saya sangat menyayangkan yang tadi nya ongkos yang ditetapkan oleh Trevel sebesar 200 ribu atau /250 ribu, nanti bisa saja akan melonjok besar bisa mencampai 700 ribu atau 800 ribu perorang " apa kita tidak kasihan terhadap Rakyat kita".Yang sudah susah malah menjadi menderita.

Saya berharap kepada pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta penerapan (PSBB),jangan di perlakukan terhadap para jasa anggutan dan penumpang yang akan pulang kekampung halaman.Dan tolong dikaji ulang dalam aturan Pembatasa Sosial Bersekala Besar ( PSBB) terhadap jasa angkutan tersebut.

Dan saya pun sangat mendukung denga aturan dan maklumat dari Kepolisian Republik Indonesia dalam pencegahan wabah Virus Corona atau Covid-19 ini.Ujarnya Edi.


( AS)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.