Recent Posts

Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi Hengki Haryadi, Tidak Ada Tempat Bagi Preman

Ilustrasi penjahat.

JAKARTA, News Investigasi.Com--

Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi Hengki Haryadi menegaskan akan memberantas segala bentuk aksi premanisme. Tidak ada tempat bagi preman di wilayah Jakarta Pusat.

Hal itu, disampaikan Hengki terkait penangkapan oknum pengacara dan delapan preman yang diduga melakukan tindak pidana memaksa disertai ancaman dan kekerasan ketika menduduki lahan, di wilayah Bungur, Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Tidak ada tempat bagi premanisme di Jakarta Pusat. Harus diberantas," ujar Hengki, Rabu (10/3/2021).

Dikatakan Hengki, aksi premanisme sangat meresahkan masyarakat. Karena itu, masyarakat diimbau harus berani melaporkannya kepada kepolisian.

"Kalau ada masyarakat yang kena aksi premanisme lapor ke kami," ungkapnya.

Perihal perkembangan kasus, polisi saat ini sedang memburu dalang yang memberikan kuasa kepada oknum pengacara AD dan memerintahkan para preman berinisial HK, EG, RK, MH, YB, WH, AS, LR dan lainnya agar menduduki lahan, di Jalan Bungur, Kemayoran Jakarta Pusat.

"Ada pelaku lain masih dalam pengejaran, termasuk dalangnya. Sudah kami ketahui, tinggal kami amankan. Tinggal tunggu waktu yang tepat," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Burhanudin.

Burhanudi menambahkan, polisi akan menangkap preman-preman yang meresahkan masyarakat. "Kalau meresahkan masyarakat, tentu kami amankan. Kami harap juga masyarakat segera melapor ke kami kalau jadi korban premanisme," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Polres Metro Jakarta Pusat, menangkap oknum pengacara dan delapan orang preman soal kasus dugaan tindak pidana perbuatan memaksa disertai kekerasan dan acaman, atau aksi premanisme terkait mafia tanah, di Jalan Bungur Raya Nomor 50, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Perkara ini bermula dari seseorang masih dalam pengejaran -dalang-, yang mengaku memiliki lahan di lokasi. Kemudian, dia memberikan surat kuasa kepada pengacaranya AD untuk menguasai atau menduduki lahan itu.

Sejurus kemudian, AD mengumpulkan sekitar 20 orang preman bayaran. Lalu mereka datang ke lokasi dan melakukan intimidasi, memaksa penghuni tanda tangan kertas surat pengosongan, dan langsung melakukan pemagaran di lokasi.

Selain itu, para preman tersebut juga menutup akses jalan menggunakan seng sehingga masyarakat merasa terintimidasi dan tidak nyaman. Kemudian, aksi itu dilaporkan kepada polisi.

Polres Metro Jakarta Pusat, selanjutnya melakukan penindakan di lokasi, dan menangkap delapan preman berinisial HK, EG, RK, MH, YB, WH, AS, dan LR yang diduga mengusai lahan itu. Termasuk mengamankan oknum pengacara AD.

(RD)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.