Recent Posts

Alfared Sibarani.SH : Keadilan Itu Milik Orang Berduit

Alfared Sibarani.SH ( Advokad ) dan As.Sisca Pradita.SH ( Pimpinan Redaksi Media News Investigasi.com ).

Www.News Investigasi.com,Jakarta-


Buruknya wajah hukum di Negara kita Indonesia dengan telanjang di pertontonkan di berbagai media cetak dan elektronik. 

Alfared Sibarani.SH Pengacara ( Advokad )  muda beliau menjelaskan, Fenomena ini menjadi hal yang wajar bahkan tidak tabu bagi masyarakat Indonesia. Istilah kasih uang habis perkara atau yang biasa disingkat KUHP telah menjadi hal yang lumrah. 

Sebagai contoh kasus adalah peristiwa hukum yang melanda seorang nenek usia lanjut yang divinis tigabulan penjara oleh salah satu pengadilan negeri di provinsi Sumatra Utara gara-gara ditudah mencuri jangung.

" Kemana saya harus mencari keadilan,begitulah kata terakhir yang terucap dari mulut seorang nenek tersebut ".

Mau tidak mau nenek yang hidup di dua zaman tersebut, harus rela menghabiskan sisa umurnya dengan tidak tenang dikarenkan hukum Indonesia telah ditegakan. 

Siapa yang peduli jika nenek tersebut adalah salah seorang pendiri fondasi bangsa ini. Meskipun hanya sebagai petani atau jadi tukang masak di dapur umum bagi para LASKAR merah putih. Ironis memang semangat penengakkan hukum di Negara kita INDONESIA. Sepertinya, hukum hanya mampu menyentuh para orang-orang miskin, apa lagi tidak berduit jadilah mereka penghuni prodeo.

Namun kondisi tersebut akan berbanding terbalik ketika hukum dihadapkan dengan orang kaya atau pejabat, hukum akan kelihatan sakit, malah kekeringan pasal tidak jarang aparat penengak hukumnya kelihatan bodoh dalam menggunakan pasal-pasal yang ada dalamn KUHP. 

Sebagai contoh kasus Century yang merugikan Negara 7 Triliun, tidak jelas alur cerita bahkan proses hukumnya. Malah kasus tersebut sudah menjadi komoditi politik. 

Century belum jelas, kasus mafia pajak pun mencuat dipermukaan nama Gayus tambunan secara spontanitas menjadi terkenal manusia 100 Milyar ini bak seorang selebritis yang selalu diburu wartawan.Kata Baharani.

Baharani melanjutkan belum lagi bila kita melihat perbedaan yang kontras pada semua hotel prodeo yang ada di Indonesia Raya ini, sangat kontras terlihat ada perbedaan antara tahanan yang kaya dan yang miskin. 

Bila tahan tersebut kaya raya maka pelayanan oleh abdi Negara akan sangat plus, mereka diberi kemudahan-kemudahan bahkan fasilitas mewah, bisa dikatakan seperti memindahkan kamar dari rumah kepenjara. 

Bahkan lebih dari itu jika mereka jenuh di penjara diberiizin melancong ke bali, nonton pertandingan tenis dll seperti yang dilakukan oleh Gayus. 

Tentunya praktek itu bukan hanya kepada gayus diberikan tetapi sudah lazim di praktekkan kepada tahanan-tahanan elit. Bak kata pepatah sepandai-padainya tupai melompat namun pasti sekali jatuh juga.

Presiden SBY dengan sigap membentuk satuan tugas pemberantasan mafia hukum, untuk mengawal proses hukum. Harapan terhadap satgas mafia hukum untuk membongkar sindikat mafia pajak, seperti punguk merindukan bulan, jangankan membongkar sindikat mafia pajak, kasus penyuapan penyidik oleh gayus saja luput dari pantauan satgas. Bagaiman tidak kasus gayus pada pengadilan negeri dinyatakan bebas, namun putusan bebas tersebut di bayar mahal oleh gayus si manusia 100 Milayar. Beginilah wajah hukum kita ada uang habis perkara tidak ada uang perkara biasa bertambah.

Bandingkan kasus Gayus dan nenek diatas sungguh miris rasanya, padahal sumber hukumnya satu, negaranya satu, presidennya satu, tapi ketika hukum yang satu itu diterapkan bunyi pasalnya biasa berubah-rubah. 

Ternyata untuk mendapatkan keadilan itu sangat sulit bagi kaum miskin, karena adil itu miliknya orang-orang yang berduit. Begitulah hukum ketika dihadapkan dengan orang miskin maka para penengak hukum akan sangat ahli dan cerdas mengeluarkan pasal demi pasal.

Ternyata ada benarnya pernyataan presiden Republik Mimpi negara tentanganya selalu bertingkah aneh-aneh dan tidak jarang membuat mereka geli tertawa terbahak-bahak melihat sandiwara yang mainkan terutama dalam hal penengakan hukum tidak seperti komedi Hakim Bao. 

Ucapnya ketika saya menonton acara diskusi dengan presiden republic mimpi disalah satu TV swasta di negeri saya.Ujarnya Baharani.

( RD )

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.