Recent Posts

Polisi Tahan Eks Kades, Mantan Camat hingga Staf BPN Jadi Mafia Tanah

Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat menangkap 10 orang mafia tanah masing-masing berinisial, MH, RD, ID, SB, SA, JD, HS, SD, AH, dan HW. Diketahui, MH merupakan mantan Kepala Desa Bendung, Serang, Banten.

Ilustrasi mafia tanah

Www.News Investigasi.com,Jakarta--

Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat menangkap 10 orang mafia tanah masing-masing berinisial, MH, RD, ID, SB, SA, JD, HS, SD, AH, dan HW. Diketahui, MH merupakan mantan Kepala Desa Bendung, Serang, Banten.

Komplotan mafia tanah tersebut diduga melakukan tindak pidana pemalsuan akta jual beli tanah sebanyak 36 surat.

Wakapolres Metro Jakarta Pusat, AKBP Setyo K. Heriyatno mengatakan modus yang dilakukan, yaitu para tersangka melakukan penipuan dan menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik dan atau memalsukan akta otentik tersebut secara bersama-sama.

"Modus penipuan para tersangka ini berjalan sejak tahun 2012 sampai 2015. MH melakukanya pada tahun 2014 saat pelapor membeli tanah di Desa Bendung dengan luas tanah sekitar 20 hektar," kata Setyo saat konferensi pers di Aula lantai 3 Polres Jakarta Pusat, Rabu (28/12/21).

Setyo mengungkapkan, kasus penipuan ini berlangsung selama 19 tahun, yakni semasa MH menjabat kades tahun 1998 – 2017.

Kala itu MH dibantu dengan beberapa stafnya dan petugas BPN untuk melakukan pengukuran atas sebidang tanah seluas 11.000 meter persegi.

Kemudian, terbit tujuh sertifikat hak milik atas nama pelapor yang dimana setelah dilakukan pengecekan, ternyata tanah tersebut adalah tanah milik warga desa.

"Hal ini menjadi masalah dikarenakan ketika pelapor diberikan tujuh sertifikat tersebut, ketika akan melakukan pengecekan terhadap lokasi dari ketujuh sertifikat ternyata tanah yang tercatat dalam sertifikat tersebut milik warga desa," sambung Setyo.

Dari kejadian itu sehingga korban mengalami kerugian uang senilai Rp.670.000.000 juta, dihitung dari NJOP tanah di lokasi tersebut.

Dari tangan tersangka, Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 36 akta jual beli, 7 SHM, 1 buku DHKP Desa Bendung, 1 buku peta bidang Desa Bendung, 1 buah stempel Desa Bendung, 1 unit mesin ketik merek olimpik 800 warna putih, dua lembar bukti transfer, 6 lembar bukti tanda terima uang, 1 lembar surat perjanjian, dan 7 warkah shm yang disita dari BPN.

Atas perbuatanya, kini para tersangka dijerat Pasal 266 KUHP, 264 KUHP, 263 KUHP juncto Pasal 56 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 8 tahun penjara.

(DT)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.